Penduduk

Kabupaten Lampung Selatan

Jumlah Penduduk Kabupaten Lampung Selatan berdasarkan hasil Proyeksi Penduduk tahun 2018 berjumlah 1.002.285 jiwa, yang terdiri dari 513.985 jiwa laki-laki dan 488.300 perempuan. Sex ratio penduduk atau perbandingan jumlah penduduk laki-laki dengan perempuan 105,26 yang berarti bahwa setiap 100 jiwa perempuan terdapat 105 laki-laki.

Berdasarkan data yang ada, penduduk Kabupaten Lampung Selatan secara garis besar dapat digolongkan menjadi dua bagian, yaitu Penduduk Asli Lampung dan Penduduk Pendatang.

Penduduk Asli Lampung, khususnya sub suku Lampung Peminggir, umumnya berkediaman di sepanjang pantai pesisir, seperti di Kecamatan Penengahan, Kalianda, Katibung. Penduduk sub suku Lampung yang lain tersebar di seluruh Kecamatan yang ada di Kabupaten Lampung Selatan.

Penduduk yang berdomisili di Kabupaten Lampung Selatan terdiri dari bermacam-macam suku dari seluruh Indonesia, seperti dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Sulawesi, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, Sumatera Utara, Aceh dan lain-lain. Dari semua suku tersebut, yang merupakan penduduk pendatang yang terbesar adalah berasal dari pulau Jawa (Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten dan Yogyakarta). Besarnya penduduk Lampung Selatan yang berasal dari pulau Jawa dimungkinkan oleh adanya kolonisasi pada zaman penjajahan Belanda, dan dilanjutkan dengan transmigrasi pada masa setelah kemerdekaan, disamping perpindahan penduduk secara swakarsa dan spontan.

Gambaran singkat transmigrasi di Kabupaten Lampung Selatan adalah sebagai berikut :

  1. Kolonisasi yang kali pertama didatangkan dari pulau Jawa ke daerah ini dilaksanakan oleh pemerintah Kolonial Belanda pada November 1905. Lokasinya di Kecamatan Gedung Tataan dengan membuka desa baru, yaitu Desa Bagelen, berjumlah 155 kepala keluarga (kk). Pemimpin yang ditunjuk pada waktu itu sebagai pemimpin proyeknya adalah H.G. Heyting.
  2. Kolonisasi kedua dilaksanakan di daerah Teluk Semangka, Kecamatan Wonosobo dan Kota Agung pada tahun 1921 dan 1922 dengan penempatan sebanyak 6021 jiwa. Pemimpin pada saat itu adalah W.C. Schalk Wijk. (Wilayah ini sekarang berada di Kabupaten Tanggamus).
  3. Pada kolonisasi ketiga dicoba sistem spontan dengan penempatannya di daerah Kota Agung dan Gedung Tataan pada tahun 1923 – 1927 berjumlah 1053 jiwa.
  4. Selanjutnya kolonisasi sistem sisipan yaitu yang disisipkan pada penduduk setempat, tidak dengan membuka lahan baru, dan sebagai obyeknya adalah di sekitar Kecamatan Kalianda yang dilaksanakan pada tahun 1934.
  5. Pada tahun 1935 – 1939 dilakukan lagi kolonisasi dengan sistem baru yaitu Bedol Desa, yang ditempatkan di daerah Kecamatan Talang Padang dengan jumlah kurang lebih 27.816 jiwa yang berasal dari Jawa Timur yaitu Kediri.
  6. Pada zaman pemerintahan Jepang berkuasa pada tahun 1942 – 1945 dan setelah Indonesia merdeka 1945 – 1946 tidak terdapat catatan yang jelas mengenai perpindahan penduduk dari pulau Jawa ke Lampung, akan tetapi perhatian pemerintah saat itu telah ada, yaitu dengan mengubah istilah kolonisasi menjadi transmigrasi pada tahun 1948.
  7. Pada tahun 1950 – 1955 telah dilaksanakan transmigrasi sejumlah 5.491 KK ke Lampung Selatan. Tahun 1955 – 1969 dipindahkan lagi sebanyak 5.333 KK yang selanjutnya ditempatkan di lokasi seperti Kecamatan Sidomulyo, Palas, Penengahan, Tanjungan dan Balau Kedaton. Pada tahun 1974, di Kecamatan Palas dan Penengahan dilakukan lagi transmigrasi sisipan sejumlah 732 kepala keluarga.

Dengan gambaran di atas, kita dapat mengetahui asal-usul penduduk pendatang, khususnya yang berasal dari pulau Jawa ke Lampung Selatan, yang saat ini sudah berkembang pesat dan bahkan ada di setiap kecamatan. Selain melalui proyek transmigrasi tersebut, masih banyak penduduk pendatang dengan tujuan menetap di daerah ini secara spontan.